Budaya ‘Flexing’ di Media Sosial dan Dampak Psikologisnya. Intisari: Flexing atau pamer kekayaan telah menjadi pemandangan umum di media sosial. Artikel ini menganalisis akar psikologis dari perilaku flexing, dampaknya terhadap kesehatan mental pengamat (penonton), dan bagaimana hal itu menciptakan standar hidup yang tidak realistis di masyarakat.
Media sosial telah berevolusi menjadi panggung global untuk flexing—sebuah istilah untuk memamerkan kekayaan, kesuksesan, atau gaya hidup mewah secara terang-terangan. Dari jam tangan mahal, liburan eksotis, hingga mobil sport, feed kita dibanjiri dengan tampilan kemewahan yang seringkali dikurasi dengan cermat.
Secara psikologis, flexing seringkali berakar pada kebutuhan akan validasi eksternal dan pencarian status sosial. Bagi sebagian orang, ini adalah cara untuk mengukur nilai diri mereka berdasarkan aset material. Namun, dampaknya bisa merusak, tidak hanya bagi pelaku tetapi juga bagi audiens.
Bagi penonton, paparan flexing yang terus-menerus dapat memicu perasaan iri, cemas, dan rendah diri (insecurity). Ini menciptakan “perbandingan sosial” yang beracun dan standar kesuksesan yang tidak realistis. Pada akhirnya, budaya ini mempertanyakan: apakah kita hidup untuk menikmati momen, atau hidup untuk menunjukkan momen itu kepada orang lain?

