Asia sedang mengalami periode modernisasi militer yang masif, sering disebut sebagai perlombaan senjata regional. Negara-negara, dari Tiongkok hingga India, dan Korea Selatan hingga Jepang, meningkatkan anggaran pertahanan dan mengakuisisi atau mengembangkan teknologi militer canggih terbaru. Fenomena ini didorong oleh ketegangan geopolitik yang meningkat, terutama di Laut Cina Selatan dan Semenanjung Korea.
Fokus modernisasi tidak hanya pada jumlah personel atau peralatan lama, melainkan pada kemampuan teknologi tinggi. Peningkatan besar terlihat pada pengembangan rudal hipersonik, drone, sistem pertahanan siber, dan kapal selam bertenaga nuklir. Tiongkok memimpin dalam pengembangan kekuatan blue-water navy (angkatan laut jarak jauh), yang mendorong tetangga-tetangganya untuk meningkatkan kemampuan pencegahan mereka.
Peningkatan kemampuan militer ini memiliki konsekuensi ganda. Di satu sisi, ini dilihat sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga kedaulatan nasional dan menyeimbangkan kekuatan regional. Di sisi lain, hal ini meningkatkan risiko salah perhitungan dan eskalasi konflik, di mana insiden kecil dapat dengan cepat berubah menjadi krisis besar.
Kebutuhan akan dialog dan diplomasi regional semakin mendesak. Sementara modernisasi terus berjalan, lembaga regional seperti ASEAN menghadapi tekanan yang lebih besar untuk menjadi mediator yang efektif, memastikan bahwa perlombaan senjata ini tidak mengarah pada ketidakstabilan yang tidak terkendali di kawasan Asia.
Intisari: Asia mengalami perlombaan senjata dan modernisasi militer skala besar, didorong ketegangan geopolitik; Fokusnya pada teknologi tinggi (rudal hipersonik, drone, siber); Hal ini meningkatkan kemampuan kedaulatan namun juga risiko eskalasi konflik regional.

